Kamis, 28 September 2017

Gunung Agung yang Mulai 'Bangun' dan Kisah di Sekitarnya

Tidak ada yang menyangka kalau Gunung Agung yang tenang ini sedang bergejolak






Hari itu, 27 September 2017. Mendekati jam 10 pagi, sebuah mobil Ranger mengarah lurus ke arah Gunung Agung. Saya bersama dua orang di mobil tersebut memiliki misi untuk membawakan bantuan logistik yang diperlukan bagi para pengungsi Gunung Agung. Sebagai cerita awal, sejak beberapa hari yang lalu Gunung Agung telah memperlihatkan gejala aktif yang ditandai dengan gempa dan laporan mengenai peningkatan aktivitas magma. Sejurus kemudian, “Kebangkitan” Gunung Agung telah membuat sekitar 40.000-an warga di sekitarnya harus memutuskan untuk mengungsi. 


Walaupun telah dianjurkan untuk mengungsi bahkan oleh pemerintah, ternyata hampir setengah dari hitungan tersebut tetap tinggal di dekat area rumah mereka. Alih - alih meninggalkan rumah demi keselamatan, kebanyakan kembali karena harus memberikan makanan bagi hewan ternaknya yang tidak mungkin mereka bawa. Kejadian ini juga menarik begitu banyak simpati dari masyarakat Bali untuk membantu dalam menyediakan penampungan Pengungsi serta menarik niat buruk para saudagar picik yang mencoba mengambil keuntungan dengan membeli ternak mereka di bawah harga. Berbekal kekhawatiran akan bencana dan topangan kehidupan yang harus dijalani setelah (misalkan) Gunung Agung Erupsi, membuat mereka memutuskan tinggal di zona merah Gunung Agung.


Posko pengungsian berada dalam radius dekat Gunung Agung


Mobil Ranger itu kembali meliuk - liuk di tengah jalanan kecil di daerah yang sudah mulai ditinggalkan oleh penduduknya. Berhenti sejenak setelah melihat beberapa warga yang duduk santai sembari was-was melihat Gunung Agung yang terlihat tenang di hadapannya. kami pun mulai berbincang dan mereka menyampaikan keluhan itu kepada kami. Saya, Mika dan Gati. “Kalau pagi sampai siang, kami akan ada di sini. Untuk memberi makan ternak. Begitu malam, kami akan kembali di pengungsian terdekat”, Ujar Pak Wayan Putra. Seorang warga yang memiliki 4 sapi dan 20 kambing di kediamannya. 



Setelah berbicara sejenak sambil tidak lupa berbagi kontak untuk membantu meneruskan info tentang tempat penitipan ternak gratis, kami pun menuju beberapa posko pengungsian terpencil yang berada di dekat area gunung Agung. Posko pengungsian tersebut ada yang dalam radius Zona Merah dan Zona Kuning. Posko - posko tersebut juga berada dalam jalur jalan utama dan ada juga yang mesti melalui jalan yang lumayan rusak. Suasana pengungsi di lokasi tersebut beragam. Dengan jumlah pengungsi mencapai 200, 400 hingga 700 orang dalam posko, Mereka sangat membutuhkan alas tidur, selimut, kebutuhan bayi, obat - obatan, sayuran hingga air. Sebuah kubutuhan utama yang luput dari para donatur yang saat ini lebih sering terlihat di posko pengungsian utama. Di luar dari kabupaten Karangasem.

Pengalaman unik saya dapatkan ketika berkunjung ke posko Rendang. Disana, kami bertemu dengan salah satu pengungsi tertua. Sebut saja Odah. Berumur sekitar 80 tahun. Kami terlibat perbincangan yang hangat tentang pengalaman Odah dan gunung Agung yang dahulu meletus 1963. Sebuah kata - kata yang saya ingat dari Odah, "Ketika seorang anak bikin ulah, maka orang tua jadi marah dan menghukum anak itu. Gunung Agung adalah orang tua kita.", "lalu siapa anak - anaknya?", Odah pun menjawab, "Kita Semua". Tanpa kesedihan dalam matanya, Odah terlihat begitu riang. Seakan sudah kenyang menikmati asam garam kehidupan dan tahu apa yang harus sebaiknya dilakukan untuk membuat "orang tua" kita tidak menjadi marah.

Sejenak kami merenungkan apa yang dikatakan Odah tersebut. Seperti tertampar bahwa sesungguhnya kita selama ini telah mengambil begitu banyak dari alam. mengambil tanpa memberikan kembali. Mungkin saja ini sebagai pengingat, bahwa kita sejatinya harus memikirkan juga alam dan memberi kembali sekaligus melindungi orang tua kita. Ibu Pertiwi kita.

Harapan selalu muncul bahkan bagi Odah, saksi mata letusan gunung Agung tahun 1963


Untuk selanjutnya, foto - foto di bawah akan menunjukkan situasi terkini dari beberapa posko pengungsian yang dekat dengan Gunung Agung dan akan ada sebuah tautan  yang bisa teman - teman gunakan untuk melihat sekaligus melengkapi data base posko pengungsian terpencil. Beserta kontak dan kebutuhan masing - masing. Bagi teman- teman yang akan memberikan donasi, harap perhatikan situasi dan kondisi psikis pribadi dan pengungsi. Sehingga kita bisa mengatur ritme untuk memberikan bantuan karena bencana erupsi gunung memerlukan waktu yang panjang untuk pemulihannya. Jadi stay safe dan semoga semua menjadi lebih baik kedepannya.

(foto dan video adalah asli milik dari penulis Blog ini, Agung Yudha)

Klik DISINI untuk Form Lokasi dan Data Pengungsi Gunung Agung

Suasana Pos Pengungsian menanga yang telah siap untuk memindahkan 700an pengungsinya jika Gunung Agung sewaktu - waktu erupsi


Pos pengungsian Rendang dengan alas tidur yang diprioritaskan bagi orang tua. Yang lainnya menggunakan alas tidur seadanya

Ibu dan anak - anak di pos pengungsian Sanggem dengan kapasitas 400 orang
-->


Suasana pos logistik di posko Menanga


Harapan untuk dibagi dalam bantuan logistik


Kondisi Posko Rendang


Logistik Sayuran yang sangat diperlukan bagi pengungsi di Posko Wisma Kerta


Menyusu dalam posko


Kamis, 29 Desember 2016

AWAS! Wabah Pentol Korek Mengintai!


Pemikiran ini bermula setengah dekade yang lalu ketika saya baru saja menyelesaikan pendidikan strata satu di sebuah universitas di Bali. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, sejenak diri ini mendapatkan lebih banyak waktu untuk menengok ke segala sisi dan menelisik lebih jauh tentang apa yang terlewat semasa dahulu sibuk berkutat dengan tugas kuliah, organisasi, maupun berbagai kegiatan berguna dan tak berguna lainnya. Dengan kata lain, selepas acara wisuda, waktu saya menjadi lebih banyak lowong sambil menyambi kerja di sebuah organisasi seni di bilangan daerah wisata di Bali.

Kamis, 16 Juni 2016

Film maker – Half time Lecture – Full time Rocker


            Beberapa tahun lalu saya adalah mahasiswa tingkat akhir yang merangkak perlahan menyelesaikan skripsi. Beberapa tahun sesudahnya, saya kembali menjadi penggiat film yang pernah digeluti bertahun yang lalu. Berbulan yang lewat saya menjadi dosen untuk sebuah institusi setelah menyelesaikan tesis yang cukup mencekik. Beribu detik selanjutnya saya berada dalam formasi Duo Rock, MR HIT.
            Duo Rock? Ya. Dua orang yang memainkan musik rock. Drum dan gitar. Itu saja. Aneh? Ga masalah. Yang penting Pede. Selain itu ternyata ini sangat membantu menghilangkan jenuh di tengah kegiatan akademis yang kadang menyita perhatian. Pagi nya boleh lah berpakaian rapi dengan etika layaknya soko guru yang siap membantu memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Selanjutnya diakhiri dengan loncat - loncat di atas panggung dan teriak - teriak sampai serak. Tapi Puas! btw, Sekarang MR HIT ber empat loh. hahaha... akhirnya kita punya temen :) (tulisan ini di update setelah formasi utuh)

            Selain bermusik, ternyata saya masih senang mengabadikan momen dan membuat film. Ah. Menyenangkan. Sekalian saja dikawinkan antara pengetahuan akademis, video dan musik rock. Apa jadinya? Dharma wacana singkat dengan balutan musik rock dan di abadikan di video. Mau Lihat? Tuh, dibawah ada video satu.
            Oke. Sebelum melebar, jadiii, Yuk, saling support talenta dan kreativitas yang ada. Karena lewat seni, kita bisa menjadikan dunia ini lebih baik. Jos! Mari Support MR HIT dengan cara subscribe Youtube nya dan KLIK di SINI.

#postingan ini memang 100% buat promo koq :p

Format Duo ROCK




Format FULL Band


Rabu, 15 Juni 2016

Pengkotakan Sosial yang ditampar Agama Baik


Masyarakat memerlukan agama / kepercayaan sebagai media untuk mendekatkan diri dengan hal yang bersifat religi. Bagi saya religi tersebut bukan semata mata membicarakan agama namun lebih kepada perasaan personal terhadap apa yang anda yakini. Ada beberapa sudut dalam diri manusia yang tidak akan selalu mampu dinalar dengan hitungan dan logika yang pasti. Suatu ruang yang diperlukan untuk hidup dan berfikir secara independen dan mengaitkan dirinya dengan keberadaan alam semesta yang luas ini. Sampai saat ini, agama dan kepercayaanlah yang mampu memberi bagian untuk itu. Contohlah ketika kita bingung harus bertindak seperti apa padahal segala cara sudah kita tempuh, alhasil kita akan berserah diri pada suatu kekuatan di luar diri dan memohon yang terbaik.

Senin, 13 Juni 2016

Agama HAM dan Krisis Toleransi dalam Masyarakat Sosial Media




2016. Masa ketika tulisan ini dibuat, penulis sedang berada di dalam suasana yang modern. Mulai dari penyampaian pesan yang sangat cepat, Batas dunia yang semakin tipis. Gadget canggih yang bertebaran namun tidak dibarengi dengan kesiapan mental yang cukup. Penulis sadar bahwa tidak ada yang salah dengan itu. Perubahan adalah hal yang selalu terjadi dan menjadi hakim atas semua kemungkinan kehidupan manusia di dunia. Apa yang ada dalam kepala ketika teringat masa dimana kehidupan begitu sederhana menjadi berbeda saat membuka mata dan melihat keadaan sekitar di jaman ini.
Smartphone yang didaulat sebagai piranti canggih tidak serta merta dimiliki pengguna yang juga smart. Berbagai informasi dapat ditilik dan dinilai secara individu. Pergeseran mental, isu SARA, modifikasi sejarah merupakan sedikit hal dan pengaruh yang diterima oleh kita saat ini. Lewat sebuah piranti dengan besarnya yang tidak lebih dari 6 inch, masyarakat kita sudah belajar banyak. Masyarakat kita sudah lebih maju dalam memahami keadaan dunianya. Dibandingkan dulu, masyarakat kita menjadi lebih pintar namun keblinger. Sulit membedakan berita palsu, minim pemikiran terhadap isu tertentu dan terpengaruh pada sebatas judul berita online, Bergesernya empati atas nama kelompok hingga hilangnya kepercayaan pada sesuatu yang sebenarnya baik.